Jakarta, Kesuksesan dalam proses pembelajaran, tidak sekedar mengacu pada bagusnya bahan ajar atau materi yang diajarkan. Tapi yang tak kalah penting adalah cara mengajarkannya. Terdapat sebuah penelitian bahwa makin meningkat tahapan pendidikan makin berbeda prosentase dialektika pengajarannya. Jika di sekolah dasar maka hampir seratus persen dikuasai oleh gurunya. Guru adalah subyek utama yang memberikan materi kepada muridnya secara monolog. Berikutnya di sekolah menengah pertama dan umum atau atas (SMP-SMA) proporsi guru agak berkurang karena telah muncul respon-respon aktif dari siswa, sehingga proses dialog telah mulai berjalan walau masih amat tergantung pada guru. Namun pada jenjang perguruan tinggi keberhasilan pembelajaran tidak lagi bisa ditentukan hanya berdasar pada uraian dosen. Pendidikan tinggi diharapkan menjadi sentra transformasi pengetahuan yang menuntut mahasiswa atau dosen memahami pengetahuan dengan cara yang lebih kritis. Sehingga model analisa yang dikembangkan mesti dialektis tidak monoton menurut pada penjelasan pengajar. Untuk itu pembelajaran inovatif amat sangat dibutuhkan.

Pascasarjana Institut STIAMI sebagai sebuah perguruan tinggi amat berorientasi pada inovasi pembelajaran yang dapat menciptakan suasana pemebelajaran yang kondusif dan nyaman. Suasana tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan daya serap mahasiswa agar mampu mengembangkan nalar pengetahuannya lebih luas lagi. Maka pada tanggal 08 Februari 2018 dilaksanakan “Workshop Pembelajaran Inovatif” di Kampus ini. Sebagai Narasumber Prof. Dr. Paisal Halim, M.Hum (Guru Besar di Pascasarjana Institut STIAMI) menyampaikan materi bagiamana menjadi pengajar yang inovatif. Prof. Paisal menekankan kemampuan pengajar dalam memahami kondisi mahasiswa sehingga dapat merancang model pembelajaran yang dapat meningkatkan gairah intelektual mahasiswa.

Senada dengan itu, Dr. Mary Ismowati, M.Si sebagai Kaprodi Magister Ilmu Administrasi di Pascasarjana Institut STIAMI menyatakan bahwa Pembelajaran Inovatif ditujukan kepada mahasiswa Pascasarjana agar mampu meningkatkan kapabilitas kelimuannya berdasar keaktifannya dalam mengelaborasi dan mengeksplorasi sebuah materi. Sehingga tenaga pengajar diharapkan dapat menambah porsi diskusi ataupun sharing, dan memberi tugas kepada mahasiswa untuk menganalisa satu masalah dan mempresentasikan pada saat pembelajaran dikelas. Juga hal bisa dilakukan adalah mengundang getselecer yaitu orang-orang yang mempunyai pengalaman praktis di bidang tersebut agar dapat berbagi pengalaman dengan mahasiswa sehingga bisa melakukan komparasi antara teori dan praktik. Namun yang tak kalah penting juga dapat pembelajaran adalah menghadirkan nilai-nilai moral sehingga mampu terinternalisasi menjadi sikap mahasiswa dalam mengemban amanah pengetahuan. Hal demikian disampaikan oleh Dr. Muhammad As’ad sebagai peserta pada workshop di atas. (Nani, s2.stiami.ac.id)